Widget Terbang Hotel Car & Money Market Int

Sunday, 1 February 2015

Demi Idola Tercinta

Demi Idola Tercinta Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sebut saja Acha, dia adalah seorang gadis yang sanggat mengidolakan Charly Van Houttens. Setiap hari ia berdoa dan berharap akan pertemuannya dengan sang idola.

Terlahir di keluarga yang sederhana, Acha menderita suatu penyakit. Sakit itu sudah bawaan sejak ia lahir, Lumpuh itulah yang sedang diderita olehnya. Gadis berusia 17 tahun ini, sudah sejak lama mengagumi Charly dari sebelum keluar dari ST12 dan membentuk Setia Band.

Suatu hari saat Acha mengetahui bahwa Setia band tampil di kotanya, dia sanggat cemas. Dia berpikir bahwa itu adalah kesempatan untuknya agar bertemu idolanya. Hingga tepat di hari tersebut Acha yang duduk di kursi roda memberanikan dirinya untuk pergi dengan sendirinya ke lokasi tampilnya Setia band. Tanpa sepengetahuan orang tuanya dia pergi diam-diam menggunakan kursi rodanya. Dalam perjalanannya Acha selalu berkata “Aku ingin bertemu kamu kak Charly”. Ucapannya tersebut menguatkan Acha hingga perjalannya yang lumayan jauh dilaluinya dengan mudah.

Sesampainya di lokasi tersebut, Acha sedikit kebinggungan. Hatinya bertanya-tanya “dimanakah kak Charly, kaka
... baca selengkapnya di Demi Idola Tercinta Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Saturday, 31 January 2015

kehebatan pesawat NURTANIO

NURTANIO N-219









 





Nurtanio N-219 (PT Dirgantara Indonesia)

Pesawat rancangan terbaru PT DI N-219 yang sedang dikembangkan mendapat sambutan baik dari dalam negeri. PT DI membutuhkan minimal 30 pesanan pesawat, sebelum pesawat ini diproduksi. N-219, satu unit harganya USD 4 juta, Pesawat ini rencananya digunakan untuk lebih menjangkau daerah-daerah perbatasan, yang minim sarana prasarananya. N219 bermesin 2, berkapasitas 19 penumpang. Pesawat ini dirancang sesederhana mungkin, tetapi tidak mengurangi aspek keselamatan penerbangan. Pesawat ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan nasional menghubungkan daerah-daerah terpencil di negeri ini. jika pesawat N219 ini nanti terwujud, akan menjadi pesawat tercanggih di kelasnya. Desain pesawat sejenis rata-rata dibuat pada 1950-an. Pesawat ini akan menggunakan teknologi era 2000-an. Beberapa kecanggihan yang ada dalam pesawat ini, antara lain, menggunakan desain dan analisis aerodinamik hasil penelitian terbaru, desain pesawat seluruhnya menggunakan komputer, serta penggunaan bahan rangka pesawat yang ringan tetapi tetap kuat. Selain itu, pesawat juga dilengkapi dengan sistem navigasi penerbangan elektronik berbasis personal computer yang murah dan global positioning system (GPS). Dengan peralatan ini, ketika pesawat menghadapi cuaca buruk, hujan deras, ataupun awan tebal, posisi gunung-gunung yang ada di depan ataupun landasan pacu pesawat tetap dapat terdeteksi. N219 mampu didaratkan pada landasan berumput sepanjang 600 meter. Adapun pesawat sejenis Casa C-212 hanya bisa mendarat di landasan sepanjang 800 meter, sedangkan DHC-6 Twin Otter bisa mendarat di landasan sepanjang 600 meter, tetapi kapasitas angkutnya lebih kecil. Mesin pesawat yang menggunakan produk Pratt & Whitney ini dirancang untuk tetap berkinerja baik pada daerah dengan tekanan udara rendah dan suhu tinggi. ”Di pegunungan yang tekanan udaranya rendah dan kondisi suhu tinggi yang membuat kerapatan udara kurang akan mengurangi kinerja mesin. Pengurangan kinerja mesin N219 tidak sedrastis pesawat sejenisnya hingga membuatnya lebih stabil,” ungkap Direktur Aerostruktur PT DI Andi Alisjahbana. Meski termasuk mesin pesawat generasi lama, Pratt &Whitney dipilih karena lebih banyak teknisi yang memahaminya dan suku cadang banyak tersedia. Jika digunakan mesin pesawat generasi baru, dipastikan perawatannya akan lebih susah dan mahal. Walau demikian, keamanan pesawat tetap jadi prioritas. Posisi sayap dan mesin yang ada di atas membuat mesin cukup terlindung dari debu atau kerikil saat mendarat. Ban pesawat juga didesain tetap ada di luar pesawat, tak dimasukkan dalam badan pesawat saat terbang sehingga tidak perlu khawatir ban tak keluar saat akan mendarat. Sebagai sesama BUMN, saya kira wajiblah tolong menolong, apalagi dalam kebaikan seperti ini. Jadi uang negara dari rakyat, digunakan oleh rakyat, dan hasilnya dinikmati untuk rakyat. Jadi uang negara akan berputar di Indonesia, untuk membiayai jam kerja warga negara Indonesia sendiri.http://masdidit88.wordpress.com/2011/07/05/hore-merpati-akan-beli-n219/  http://iqbal1.wordpress.com/category/teknologi/

 Mulai Selasa 9 September 2014 ini, komponen pesawat badan ringan 100 persen rancangan Indonesia, N219, diproduksi di fasilitas PT Dirgantara Indonesia, Bandung. Peristiwa ini menjadi momentum yang sangat penting dari upaya kebangkitan PT DI setelah bertahun-tahun diterjang krisis. Komponen ini, yakni center post, diperlihatkan Dirut DI Budi Santoso, Kepala Lapan Thomas Djamaluddin dan Chief Engineer N219 Palmana Banandhi siang tadi kepada hadirin dan wartawan dalam  acara First Cutting Detail Part Manufacturing N219 di Hanggar Machining DI, Bandung.

Center post adalah "tulang" bagian tengah cockpit windshield N219. Menurut Budi Santoso, struktur airframe  N219 terdiri dari lebih kurang 5.000 parts atau komponen, dan center post adalah salah satunya. Pesawat mesin ganda (turboprop) kapasitas 19 penumpang ini sengaja dirancang sederhana, tepat guna dan mudah dirawat, karena akan dipasang sebagai tulang punggung transportasi udara di daerah terpencil Indonesia. Pemerintah menjadikannya sebagai program nasional, karena sudah lama daerah-daerah tersebut memerlukan pesawat jenis ini untuk membangun dan mengejar ketertinggalannya.

Pendanaan N219 disetujui Pemerintahan SBY pada 2013 berkat lobby pimpinan Lapan yang mengedepankan subyek kemandirian industri dalam negeri. Lewat analisis kelayakan dan kemampuan teknologi, Bappenas akhirnya menggelontorkan anggaran sebesar Rp 400 milyar, dengan hasil akhir dua prototip pesawat. Dalam klausul yang dibuat pemerintah, Lapan bertindak sebagai badan litbang yang bertanggung-jawab atas kelayakan desain pesawat, sementara PT DI menjadi pihak kedua yang diberi tanggung-jawab memproduksi pesawat ini.

Kabar tentang pembuatan pesawat ini sendiri telah berhembus sejak tahun 2000-an, namun kepastiannya tak pernah jelas karena ketiadaan anggaran. Kini, setelah masalah anggaran terpecahkan, Lapan menargetkan pesawat akan roll-out selambatnya akhir 2015, dan melakukan serangkaian uji terbang untuk sertifikasi kelaikan udara pada 2016. Sejauh ini pesawat yang kabarnya dibandrol cuma 5 juta dollar AS atau lebih murah 2 juta dollar dari pesawat perintis paling populer, DHC-6 desk 400, ini sudah ditaksir sejumlah perusahaan dalam negeri. Pesanan yang tercatat (letter of intens) sudah mencapai 130 unit. (A. Darmawan)
 http://militerstory.blogspot.com/2014/09/komponen-pertama-n219-mulai-diproduksi.html 

 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berhasil mengembangkan N219 buatan sendiri. Ini dibuktikan, dengan First Cutting Detail Part Manufacturing N219 yang dilakukan hari ini, Selasa 9 September 2014, di Bandung. Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lapan, Jasyanto, kegiatan ini merupakan pemotongan pertama Detail Part Manufacturing (DPM), pertanda dimulainya pembuatan komponen airframe N219. "Saat ini, N219 telah mencapai tahap produksi komponen. Proses DPM ini merupakan satu tahapan penting dalam pembuatan pesawat," kata Jasyanto, dalam keterangan resminya. N219 disebut-sebut sebagai pesawat perintis berpenumpang 19 orang yang mampu mendarat di landasan pendek di ketinggian ekstrem. "Lapan melalui Pusat Teknologi Penerbangan siap membangkitkan kembali industri penerbangan nasional. Setelah seluruh proses pengembangan prototipe N219 selesai, pesawat ini akan diproduksi massal oleh BUMN Penerbangan, PT DI (Dirgantara Indonesia)," ujar Jasyanto. Program N219 dimulai sejak 2006, dengan melakukan kajian pasar dan kelayakannya. Lapan telah mengalokasikan anggaran dan melibatkan engineer di bidang aerodinamika, struktur, propulsi, navigasi, dan avionik pesawat untuk mengembangan N219. "Tahun 2008 hingga 2012, dilanjutkan dengan membuat desain konsep dan melakukan uji wind tunnel (terowongan angin). Saat ini, N-219 berada pada fase detail design dan tooling design yang akan selesai pada Oktober 2014," katanya. Diharapkan, kata Jasyanto, Lapan akan menyelesaikan pembangunan pesawat ini sepenuhnya dan menunjukkannya kepada publik pada 10 Agustus 2015. Sementara itu, pesawat ini direncanakan terbang untuk pertama kali pada Desember 2015. Kemudian, pesawat akan memasuki proses sertifikasi yang akan selesai pada Oktober 2016. Selain untuk membangkitkan industri penerbangan nasional, N219 dibangun juga sebagai pengembangan pesawat perintis di Indonesia timur dan pulau-pulau kecil. Pengembangan pesawat ini optimistis dapat meningkatkan industri penerbangan dalam negeri. Hal ini, disebabkan potensi pasar bagi N219 sangat besar karena tingginya kebutuhan pesawat dalam negeri, diiringi pertumbuhan penumpang transportasi udara Indonesia terus meningkat setiap tahun. Bukti tingginya kebutuhan transportasi udara di dalam negeri terlihat, dari banyaknya pihak yang memesan pesawat ini. Bahkan, saat ini, sudah ada pesanan sebanyak 150 pesawat dari berbagai maskapai penerbangan dan industri. N-219 Cocok untuk Penerbangan Pulau Kecil Pesawat N-219 yang diprodukasi Lapan dengan pengerjaan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) merupakan pesawat jenis perintis yang cocok digunakan untuk Indonesia timur dan pulau-pulau kecil dengan landasan pacu pendek dan ketinggian ekstrem. Pesawat ini berpenumpang 19 orang dengan sistem cokpit digital dan teknologi canggih berbiaya murah. Direktur PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso menyampaikan hal itu pada "First Cutting Detail Part Manufacturing N219". Kegiatan ini merupakan pemotongan pertaman detail part manufacturing (DPM) atau dimulainya pembuatan komponen airframe N219. Proses ini merupakan satu tahapan penting dalam pembuatan pesawat, berlangsung di Hanggar Produksi KPII PT Dirgantara Indonesia, Jalan Pajajaran, Bandung, Selasa (9/9/2014). Menurut Budi, N219 dibuat dengan teknologi canggih menggunakan 60 persen komponen lokal berbiaya murah. Diharapkan, meskipun berbiaya murah tetapi penjualannya semahal mungkin dengan tujuan untuk mengembangkan industri penerbangan lainnya. Pesawat N219 dapat tinggal landas di landasan pendek 600 meter dengan ketinggian terbang mencapai 3000 an dan daya jelajah 800 mil atau sejauh jarak tempuh Jakarta-Surabaya. Pesawat ini dibuat pertama dua unit dengan biaya sebesar Rp 400 milyar pada tahun pertama (2014) dan Rp 90 miliar untuk tahun kedua (2015). Program N219 sebenarnya kata Budi sudah dirancang 10 tahun silam. Namun karena kesulitan teknis dan non teknis baru dapat dikerjakan mulai 2006 dengan melalukan kajian pasar dan kelayakannya. Dibandingkan dengan pesawat sejenis, N219 memiliki keunggulan berbeda. Selain jumlah penumpangnya berlebih, rata-rata pesawat sejenis seperti Cesna atau yang lainnya hanya berpenumpang 15 orang sedangkan N219 berpenumpang 19 orang, bagian cokpit pesawat juga sudah menggunakan sistem digital. Pesawat ini, menurut Ketua Lapan Thomas Jamaludin dapat menggantikan sistem angkut hasil pertanian berupa coklat, cengkeh, dll yang semula menggunakan kapal laut. "Ini diharapkan menjadi landasan untuk Indonesia bangkit menjadi bangsa yang maju dan mandiri," ujar Thomas. Sumber : VIVAnews , Pikiran-rakyat

Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Bandung (MI) : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berhasil mengembangkan N219 buatan sendiri. Ini dibuktikan, dengan First Cutting Detail Part Manufacturing N219 yang dilakukan hari ini, Selasa 9 September 2014, di Bandung. Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lapan, Jasyanto, kegiatan ini merupakan pemotongan pertama Detail Part Manufacturing (DPM), pertanda dimulainya pembuatan komponen airframe N219. "Saat ini, N219 telah mencapai tahap produksi komponen. Proses DPM ini merupakan satu tahapan penting dalam pembuatan pesawat," kata Jasyanto, dalam keterangan resminya. N219 disebut-sebut sebagai pesawat perintis berpenumpang 19 orang yang mampu mendarat di landasan pendek di ketinggian ekstrem. "Lapan melalui Pusat Teknologi Penerbangan siap membangkitkan kembali industri penerbangan nasional. Setelah seluruh proses pengembangan prototipe N219 selesai, pesawat ini akan diproduksi massal oleh BUMN Penerbangan, PT DI (Dirgantara Indonesia)," ujar Jasyanto. Program N219 dimulai sejak 2006, dengan melakukan kajian pasar dan kelayakannya. Lapan telah mengalokasikan anggaran dan melibatkan engineer di bidang aerodinamika, struktur, propulsi, navigasi, dan avionik pesawat untuk mengembangan N219. "Tahun 2008 hingga 2012, dilanjutkan dengan membuat desain konsep dan melakukan uji wind tunnel (terowongan angin). Saat ini, N-219 berada pada fase detail design dan tooling design yang akan selesai pada Oktober 2014," katanya. Diharapkan, kata Jasyanto, Lapan akan menyelesaikan pembangunan pesawat ini sepenuhnya dan menunjukkannya kepada publik pada 10 Agustus 2015. Sementara itu, pesawat ini direncanakan terbang untuk pertama kali pada Desember 2015. Kemudian, pesawat akan memasuki proses sertifikasi yang akan selesai pada Oktober 2016. Selain untuk membangkitkan industri penerbangan nasional, N219 dibangun juga sebagai pengembangan pesawat perintis di Indonesia timur dan pulau-pulau kecil. Pengembangan pesawat ini optimistis dapat meningkatkan industri penerbangan dalam negeri. Hal ini, disebabkan potensi pasar bagi N219 sangat besar karena tingginya kebutuhan pesawat dalam negeri, diiringi pertumbuhan penumpang transportasi udara Indonesia terus meningkat setiap tahun. Bukti tingginya kebutuhan transportasi udara di dalam negeri terlihat, dari banyaknya pihak yang memesan pesawat ini. Bahkan, saat ini, sudah ada pesanan sebanyak 150 pesawat dari berbagai maskapai penerbangan dan industri. N-219 Cocok untuk Penerbangan Pulau Kecil Pesawat N-219 yang diprodukasi Lapan dengan pengerjaan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) merupakan pesawat jenis perintis yang cocok digunakan untuk Indonesia timur dan pulau-pulau kecil dengan landasan pacu pendek dan ketinggian ekstrem. Pesawat ini berpenumpang 19 orang dengan sistem cokpit digital dan teknologi canggih berbiaya murah. Direktur PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso menyampaikan hal itu pada "First Cutting Detail Part Manufacturing N219". Kegiatan ini merupakan pemotongan pertaman detail part manufacturing (DPM) atau dimulainya pembuatan komponen airframe N219. Proses ini merupakan satu tahapan penting dalam pembuatan pesawat, berlangsung di Hanggar Produksi KPII PT Dirgantara Indonesia, Jalan Pajajaran, Bandung, Selasa (9/9/2014). Menurut Budi, N219 dibuat dengan teknologi canggih menggunakan 60 persen komponen lokal berbiaya murah. Diharapkan, meskipun berbiaya murah tetapi penjualannya semahal mungkin dengan tujuan untuk mengembangkan industri penerbangan lainnya. Pesawat N219 dapat tinggal landas di landasan pendek 600 meter dengan ketinggian terbang mencapai 3000 an dan daya jelajah 800 mil atau sejauh jarak tempuh Jakarta-Surabaya. Pesawat ini dibuat pertama dua unit dengan biaya sebesar Rp 400 milyar pada tahun pertama (2014) dan Rp 90 miliar untuk tahun kedua (2015). Program N219 sebenarnya kata Budi sudah dirancang 10 tahun silam. Namun karena kesulitan teknis dan non teknis baru dapat dikerjakan mulai 2006 dengan melalukan kajian pasar dan kelayakannya. Dibandingkan dengan pesawat sejenis, N219 memiliki keunggulan berbeda. Selain jumlah penumpangnya berlebih, rata-rata pesawat sejenis seperti Cesna atau yang lainnya hanya berpenumpang 15 orang sedangkan N219 berpenumpang 19 orang, bagian cokpit pesawat juga sudah menggunakan sistem digital. Pesawat ini, menurut Ketua Lapan Thomas Jamaludin dapat menggantikan sistem angkut hasil pertanian berupa coklat, cengkeh, dll yang semula menggunakan kapal laut. "Ini diharapkan menjadi landasan untuk Indonesia bangkit menjadi bangsa yang maju dan mandiri," ujar Thomas. Sumber : VIVAnews , Pikiran-rakyat

Make Money at : http://bit.ly/copy_win


Seandainya jadi dipasarkan maka besar kemungkinan TNI-AD-POLRI akan menggunakannya untuk supporting angkutan personel/logistik daerah terluar dan terpencil dengan landasan udara minim. 

Karena modelkitnya belum ada yang membuat, maka harus memodivikasi sendiri dari pesawat sejenis lain, sementara ini ditemukan bahan utk memodivikasi yaitu jenis pesawat Let L-410UVP buatan Czechoslovakia, yang model kitnya merk Gavia, Amodel, skala 1/72 buatan Czechoslovakia juga seperti gambar di atas. Apabila modelkit L-410 tersebut diatas diperoleh akan dimodiv menjadi N-219, markingnya akan dibuat sesuai dengan user yang akan menggunakan pesawat tersebut nantinya.




photo dibawah adalah mokit rakitan  http://designer.home.xs4all.nl/models/czech/czech.htm



JET TEMPUR...DAGANGAN SUPER LARIS

Australia Beli 12 Jet Tempur Super Hornet

» Jum'at, 01 March 2013 | Hit: 20139
facebook umm twitter umm delicious umm digg umm berita-ilmiah-1874.html  berita-ilmiah_1874.pdf  berita-ilmiah_1874.doc umm-news-1874-id.ps
F/A-18 Super Hornet
WASHINGTON - Pentagon telah memberitahu Kongres AS tentang rencana penjualan 12 jet tempur Super Hornet dan 12 pesawat perang elektronik Growler yang dibuat Boeing ke Australia dengan harga sekitar 3,7 miliar dollar AS (atau sekitar Rp 35,7 triliun).

Penjualan yang tertunda itu, yang diumumkan dalam sebuah posting-an di situs web Department Pertahanan AS, terjadi saat AS sedang meningkatkan kehadiran militernya di Australia sebagai bagian dari pembentukan poros Pentagon di Asia Pasifik.

Penjualan yang diusulkan itu, yang mencakup komponen, dukungan pelatihan dan logistik, akan menguntungkan perusahaan Boeing di Chicago tersebut, yang membuat pesawat, serta berbagai unit General Electric, Data Link Solutions, BAE Systems, Northrop Grumman, Raytheon, dan Visions Systems International.

Wednesday, 28 January 2015

jet...SUPER DIGDAYA.....


 F-22 Raptor adalah pesawat tempur siluman buatan Amerika Ser Pesawat ini awalnya direncanakan untuk dijadikan pesawat tempur superioritas udara untuk digunakan menghadapi pesawat tempur Uni Soviet, tetapi pesawat ini juga dilengkapi peralatan untuk serangan darat, peperangan elektronik, dan sinyal intelijen. Pesawat ini melalui masa pengembangan yang panjang, versi prototipnya diberi nama YF-22, tiga tahun sebelum secara resmi dipakai diberi nama F/A-22, dan akhirnya diberi nama F-22A ketika resmi mulai dipakai pada Desember 2005. Lockheed Martin Aeronautics adalah kontraktor utama yang bertanggungjawab memproduksi sebagian besar badan pesawat, persenjataan, dan perakitan F-22. Kemudian mitranya, Boeing Integrated Defense Systems memproduksi sayap, peralatan avionik, dan pelatihan pilot dan perawatan. Sejarah Advanced Tactical Fighter (ATF) merupakan kontrak untuk demonstrasi dan program validasi yang dilakukan Angkatan Udara Amerika Serikat untuk mengembangkan sebuah generasi baru pesawat tempur superioritas udara untuk menghadapi ancaman dari luar Amerika Serikat, termasuk dikembangkannya pesawat kelas Su-27 era Soviet. Pada tahun 1981, Angkatan Udara Amerika Serikat memetakan syarat-syarat yang harus dipenuhi sebuah pesawat tempur baru yang direncanakan untuk menggantikan F-15 Eagle. ATF direncanakan untuk memadukan teknologi modern seperti logam canggih dan material komposit, sistem kontrol mutakhir, sistem penggerak bertenaga tinggi, dan teknologi pesawat siluman. Proposal untuk kontrak ini diajukan pada tahun 1986, oleh dua tim kontraktor, yaitu Lockheed-Boeing-General Dynamics dan Northrop-McDonnell Douglas, yang terpilih pada Oktober 1986 untuk melalui fase demonstrasi dan validasi selama 50 bulan, yang akhirnya menghasilkan dua prototip, yaitu YF-22 dan YF-23. Pesawat ini direncanakan untuk menjadi pesawat Amerika Serikat paling canggih pada awal abad ke-21, karena itu, pesawat ini merupakan pesawat tempur paling mahal, dengan harga US$120 juta per unit, atau US$361 juta per unit bila ditambahkan dengan biaya pengembangan. Pada April 2005, total biaya pengembangan program ini adalah US$70 miliar, menyebabkan jumlah pesawat yang direncanakan akan dibuat turun menjadi 438, lalu 381, dan sekarang 180, dari rencana awal 750 pesawat. Salah satu faktor penyebab pengurangan ini adalah karena F-35 Lightning II akan memiliki teknologi yang sama dengan F-22, tapi dengan harga satuan yang lebih murah. Produksinya F-22 versi produksi pertama kali dikirim ke Pangkalan Udara Nellis, Nevada, pada tanggal 14 Januari 2003. Pengetesan dan evaluasi terakhir dilakukan pada 27 Oktober 2004. Pada akhir 2004, sudah ada 51 Raptor yang terkirim, dengan 22 lagi dipesan pada anggaran fiskal 2004. Kehancuran versi produksi pertama kali terjadi pada 20 Desember 2004 pada saat lepas landas, sang pilot selamat setelah eject beberapa saat sebelum jatuh. Investigasi kejatuhan ini menyimpulkan bahwa interupsi tenaga saat mematikan mesin sebelum lepas landas menyebabkan kerusakan pada sistem kontrol. Persenjataan F-22 F-22 dirancang untuk membawa peluru kendali udara ke udara yang tersimpan secara internal di dalam badan pesawat agar tidak mengganggu kemampuan silumannya. Peluncuran rudal ini didahului oleh membukanya katup persenjataan lalu rudal didorong kebawah oleh sistem hidrolik. Pesawat ini juga bisa membawa bom, misalnya Joint Direct Attack Munition (JDAM) dan Small-Diameter Bomb (SDB) yang lebih baru. Selain penyimpanan internal, pesawat ini juga dapat membawa persenjataan pada empat titik eksternal, tetapi apabila ini dipakai akan sangat mengurangi kemampuan siluman, kecepatan, dan kelincahannya. Untuk senjata cadangan, F-22 membawa meriam otomatis M61A2 Vulcan 20 mm yang tersimpan di bagian kanan pesawat, meriam ini membawa 480 butir peluru, dan akan habis bila ditembakkan secara terus-menerus selama sekitar lima detik. Meskipun begitu, F-22 dapat menggunakan meriam ini ketika bertarung tanpa terdeteksi, yang akan dibutuhkan ketika rudal sudah habis. Kemampuan Siluman dari F-22 Pesawat tempur modern Barat masa kini sudah memakai fitur-fitur yang membuat mereka lebih sulit dideteksi di radar dari pesawat sebelumnya, seperti pemakaian material penyerap radar. Pada F-22, selain pemakaian material penyerap radar, bentuk dan rupa F-22 juga dirancang khusus, dan detil lain seperti cantelan pada pesawat dan helm pilot juga sudah dibuat agar lebih tersembunyi.F-22 juga dirancang untuk mengeluarkan emisi infra-merah yang lebih sulit untuk dilacak oleh peluru kendali “pencari panas”. Namun, F-22 tidak tergantung pada material penyerap radar seperti F-117 Nighthawk. Penggunaan material ini sempat memunculkan masalah karena tidak tahan cuaca buruk. Dan tidak seperti pesawat pengebom siluman B-2 Spirit yang membutuhkan hangar khusus, F-22 dapat diberikan perawatan pada hangar biasa. Selain itu, F-22 juga memiliki sistem yang bernama “Signature Assessment System”, yang akan menandakan kapan jejak radar pesawat sudah tinggi, sampai akhirnya membutuhkan pembetulan dan perawatan.(Juf/RM/JR)

pesawat pesawat amerika JAGO DI UDARA

Pesawat Tempur Amerika


Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) merupakan yang terbesar di dunia dengan perkiraan kurang lebih 15.000 unit pesawat tempurnya. berikut pesawat-pesawat yang dimiliki USAF


1. Lockeed AC-130
Lockheed AC-130 gunship adalah varian pesawat serangan darat bersenjata berat bermesin turboprop dari pesawat pengangkut C-130 Hercules.
Dasar badan pesawat yang diproduksi oleh Lockheed, sedangkan Boeing bertanggung jawab atas konversi ke tempur dan dukungan pesawat AC-130A tempur II menggantikan AC-47 Gunship I selama Perang Vietnam

2.  A-10/OA-10 Thunderbolt II
A-10 Thunderbolt II dirancang untuk kebutuhan Angkatan Udara AS untuk perlindungan dan dukungan udara (CAS: Close Air Support) bagi pasukan di darat dari tank atau kendaraan tempur lapis baja musuh. A-10 merupakan pesawat tempur pertama milik AS yang dirancang untuk dukungan udara.

3. Boeing B-52 Stratofortress














Boeing B-52 Stratofortress merupakan pesawat pengebom strategis jarak jauh pengintai (reconnaissance aircraft) bermesin delapan  sejak 1954, menggantikan Convair B-36 dan Boeing B-47. Walaupun dibuat untuk peran era Perang Dingin, pencegahan perang nuklir, pemakaian konvensionalnya pada masa kini adalah semakin penting dalam operasi-operasi USAF, di mana jarak jangkaunya yang jauh, muatan senjata beratnya, dan biaya operasionalnya yang ekonomis (dibanding dengan armada kapal pengebom strategis USAF yang lain)

4   F-16 Fighting Falcon











Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya ber-evolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer. Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi F-16 dikenal memiliki kemampuan tempur di udara yang sangat baik, dengan inovasi seperti tutup kokpit tanpa bingkai yang memperjelas penglihatan, gagang pengendali samping untuk memudahkan kontrol pada kecepatan tinggi, dan kursi kokpit yang dirancang untuk mengurangi efek g-force pada pilot. Pesawat ini juga merupakan pesawat tempur pertama yang dibuat untu menahan belokan pada percepatan 9g.

5. F-15 Eagle














F-15 Eagle adalah pesawat tempur taktis segala cuaca yang dirancang untuk menciptakan dan mempertahankan superioritas udara dalam pertarungan di langit. Pesawat ini dikembangkan untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, dan pertama kali terbang pada Juli 1972. F-15E Strike Eagle adalah variannya yang merupakan pesawat tempur serang yang mulai dipakai pada tahun 1989. Angkatan Udara Amerika Serikat berencana untuk tetap menggunakan F-15 sampai tahun 2025. strike eagles dan Silent Eangles merupakan salah satu varianya

6. F-18 Hornet 

F/A-18 Hornet buatan McDonnell Douglas (kini menyatu ke dalam Boeing) adalah pesawat tempur supersonik serbaguna yang dapat dioperasikan dari dan ke kapal induk di segala cuaca, dirancang untuk dapat bertempur di udara dan menyerang sasaran di darat (F/A adalah inisial untuk fighter (tempur) dan attack (serang)). F/A-18 adalah turunan dari YF-17 pada dasawarsa 1970-an untuk digunakan oleh Angkatan Laut dan Korps Marinir Amerika Serikat. Hornet juga digunakan oleh angkatan udara di beberapa negara. Pesawat ini telah menjadi pesawat peraga dirgantara bagi Skuadron Peraga Terbang Angkatan Laut Amerika Serikat, Blue Angels, sejak tahun 1986.
Hornet berperan sebagai pesawat tempur pengawal, pertahanan udara, perusak pertahanan udara musuh, larangan udara, pesawat serang antigerilya, dan pesawat intai. Keserbagunaan dan keandalannya telah membuktikannya menjadi aset bernilai pada sebuah kapal induk, meskipun ia dikritik karena kelemahannya dalam hal jelajah dan daya muat dibandingkan dengan yang dimiliki pesawat-pesawat mutakhir pendahulunya, seperti F-14 Tomcat dalam hal peran tempur dan serang-tempur, dan A-6 Intruder dan A-7 Corsair II dalam hal peran serang.

7.  F-22 RAPTOR
















pesawat ini adalah pesawat yang bisa di bilang sebagai pesawat "paling mematikan saat ini" karena memiliki kemampuan Persenjataan Internal,STEALTH,Mini AWACS, "First-look, first-shot, first-kill",Manuverabilitas Super.
F-22 Raptor juga dijadikan  pesawat tempur siluman buatan Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya direncanakan untuk dijadikan pesawat tempur superioritas udara untuk digunakan menghadapi pesawat tempur Uni Soviet, tetapi
 pesawat ini juga dilengkapi peralatan untuk serangan darat, peperangan elektronik, dan sinyal intelijen

8. F-35 Lightning II 












F-35 Lightning II adalah hasil pengembangan dari pesawat X-35dalam program Joint Strike Fighter. Pesawat ini adalah pesawat tempur supersonik berkursi tunggal, bermesin tunggal, yang dapat melakukan banyak fungsi, antara lain pertempuran udara-ke-udara, dukungan udara jarak dekat, dan pengeboman taktis. Pengembangan pesawat ini dibiayai oleh Amerika Serikat,Britania Raya dan beberapa negara lainnya. Pesawat ini dikembangkan dan diproduksi oleh industri kedirgantaraan yang dipimpin oleh Lockheed Martin serta dua rekan utamanya, BAE Systems dan Northrop Grumman. Pesawat demonstrasi pertama kali terbang pada tahun 2000, dan pesawat versi produksi pertama kali terbang pada 15 Desember 2006.


9.  B-2 Spirit












Northrop Grumman B-2 Spirit adalah pesawat perang berteknologi stealth yang digunakan untuk pengemboman (Stealth Bomber). Pesawat yang dibuat dari bahan thermoplastic itu. Misi dari pesawat ini adalah menghancurkan basis atau pangkalan militer musuh, tanpa terlihat radar. Kelebihan B-2 adalah mampu menembus perisai pertahanan udara (radar) yang canggih. Pesawat ini mampu menyerang semua target dari ketinggian hingga 50.000 kaki, (16,656 kilometer) dari ketinggian laut, dengan jangkauan lebih dari 6.000 nm, tanpa mengisi bahan bakar (unrefueled) dan lebih dari 10.000 nm dengan satu kali pengisian bahan bakar, memberikan kemampuan untuk terbang ke titik manapun di dunia dalam beberapa jam.

10. E-2D Advanced Hawkeye













Pesawat ini merupakan sebuah langkah yang tepat dari Amerika untuk membuat sebuah alat yang berfungsi untuk pengawasan dan pengintaian. Sistem radar kuat terbaru dari Hawkeye Advanced akan meningkatkan jangkauan wilayah intai pesawat, ini. Pesawat ini dapat memantau hingga 300% dan apabila anda berada dalam pesawat ini, anda "Mungkin bisa menonton pop pistachio di Iran".