CAPRES INDONESIA 2014 & BURSA KEUANGAN DUNIA

Siapa Presiden RI 2014 yad.
Prabowo Subianto
Joko Widodo
Abu Rizal Bakri
Poll Maker

Rabu, 16 April 2014

WADUH..KOK GITU YAA...APA ARTINYA SEBUAH KEMANDIRIAN BANGSA? ETISKAH SANG CALON PEMIMPIN KITA BEGITU

Wow, Ini Dia Kritikan Untuk Jokowi, Terkait Dengan Pertemuan Para Dubes Asing

Wow, Ini Dia Kritikan Untuk Jokowi, Terkait Dengan Pertemuan Para Dubes AsingCalon Presiden PDI Perjuangan Joko Widodo alias Jokowi bertemu dengan sejumlah duta besar termasuk Dubes Amerika Serikat (AS), Robert O’ Blacke. Pertemuan tersebut dilakukan di rumah salah seorang pengusaha yakni Jacob Soetoyo yang berada di Jalan Sircon No 73, Permata Hijau Jakarta Selatan. Jokowi juga didampingi oleh Megawati Soekarnoputri.
Pertemuan yang berlangsung tertutup itu tak ayal menimbulkan sebuah tanda tanya besar bagi sebagian kalangan. Jokowi disebut meminta dukungan terhadap sejumlah negara asing guna memuluskan jalannya menuju kursi orang nomor satu di Republik ini.
Tak sedikit kalangan yang turut melempar kritikan terhadap pertemuan Jokowi itu. Berikut beberapa kritikan yang diarahkan Jokowi terkait pertemuan dengan para Dubes negara lain:
Pertemuan tersebut tidak etis
Pengamat media UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahputra menilai pertemuan Jokowi dengan sejumlah Duta Besar dinilai tidak etis, sebab membuka penafsiran adanya intervensi asing dalam proses pemilihan presiden dan wakil presiden.
Iswandi yakin betul bahwa pertemuan tersebut ada kaitannya dengan pencapresan yang tengah dilakoni Jokowi. “Pertemuan tersebut tidak etis, bahkan dapat melukai rasa independensi Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat secara politik,” kata Iswandi.
ADVERTISEMENT
Harusnya Jokowi bertemu Dubes Asing setelah terpilih jadi Presiden
Pertemuan Jokowi dengan sejumlah Duta Besar Negara lain dinilai Pengamat media UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahputra merupakan tindakan yang gegabah. Sebab, pertemuan itu hanya dilakukan dengan duta besar negara yang notabene hanya memiliki kepentingan bisnis besar di Indonesia.
Meski tidak ada larangan secara eksplisit, Iswandi menyayangkan pertemuan tersebut dilakukan di saat Jokowi tengah mengikuti bursa pencapresan di Tanah Air.
Menurut dia, pertemuan itu lebih baik dilakukan saat Jokowi telah terpilih sebagai presiden.”Memang tidak ada yang melarang Jokowi bertemu siapa saja. Namun pertemuan tersebut menjadi peristiwa politik karena dilakukan Jokowi sebelum pemilihan presiden dan hanya negara yang memiliki kepentingan ekonomi besar terhadap Indonesia yang ditemuinya,” papar Iswandi.
Pertemuan itu tersirat makna AS akan dikte Pemerintahan Jokowi
Pengamat Politik Universitas Jayabaya Igor Dirgantara menilai, pertemuan tersebut tidak bisa lepas dari kepentingan Amerika di Pilpres 2014. Dirinya melihat, pertemuan itu juga memungkinkan AS bisa mendikte pemerintahan Jokowi nanti.
“Biasanya AS akan menanamkan dukungan dan pengaruh baik terhadap figur atau arah kebijakannya. Ini bentuk pendiktean AS terhadap Indonesia akan posisi strategisnya terhadap dinamika masa depan kawasan Asia Tenggara,” kata Igor dalam keterangan pers.
Igor menjelaskan, wujud nyata kepentingan AS dalam menguasai perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia sebetulnya telah terungkap dari kasus terbongkarnya penyadapan AS dan kebocoran kawat diplomatik AS oleh Edward Snowden. Karena itu, bukan AS namanya jika tidak punya agenda politik ekonomi.
Pertemuan itu jadi ajang transaksi politik dan bisnis
Pengamat media UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahputra mengatakan pertemuan antara Megawati dan Jokowi dengan sejumlah duta besar negara asing dapat memunculkan spekulasi negatif untuk Jokowi.
“Pertemuan tersebut menjadi semacam ajang transaksi politik dan bisnis. Ini sungguh mengherankan sekali. Apalagi dikabarkan pertemuan tersebut diinisiasi oleh mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad,” ucap Iswandi.
Ditambah, lanjut Iswandi, dalam beberapa hal Indonesia dengan Malaysia sebagai negara tetangga tidak memiliki hubungan yang harmonis.
“Malaysia sebagai tetangga dalam beberapa hal memiliki hubungan tidak baik dengan Indonesia. Ada apa ini? PDIP sebagai partai yang mengusung ideologi nasionalisme justru seperti membuka diri untuk diintervensi asing,” tuturnya.

4.PEMBANDING LEMBAGA SURVEY UNTUK HASIL PILEG...2014

Hasil Lengkap Hitung Cepat Pemilu 4 Lembaga Survei

Kamis, 10 April 2014 | 11:44 WIB
Hasil Lengkap Hitung Cepat Pemilu 4 Lembaga Survei
Hasil exit Poll dari Populi Center. Dalam survei exit poll sementara itu PDI Perjuangan, Rabu (9/4).
TEMPO.CO, Jakarta - Hasil hitung cepat empat lembaga survei menyatakan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan duduk di peringkat pertama dengan rata-rata suara 19 persen. Perolehan suara itu tidak sesuai dengan target Partai Banteng yang di atas 20 persen. Hasil quick count menunjukkan PDI Perjuangan harus menggandeng partai lain dalam koalisi untuk meloloskan calon presidennya, Joko Widodo. (Baca juga: Apa Sebab Suara Demokrat dan PKS Jeblok)

Dengan siapa kubu Megawati akan berkoalisi? Berikut hasil akhir hitung cepat empat lembaga survei, yakni CSIS-CYRUS, SMRC-LSI, Indikator, dan Lingkar Survei Indonesia:

CSIS-CYRUS
Total sampel:97,2 %
1. PDIP: 19%
2. Golkar: 14,3%
3. Gerindra: 11,8%
4. Demokrat: 9,6%
5. PKB: 9,2%
6. PAN : 7,4%
7. PKS : 6,9%
8. PPP : 6,6%
9. Nasdem : 6,8%
10. Hanura : 5,5%
11. PBB : 1,6%
12. PKPI : 1,1%

SMRC-LSI
Total sampel: 97,4%
1. PDIP: 18,98%
2. Golkar: 14,88%
3. Gerindra: 11,93%
4. Demokrat: 10,02%
5. PKB: 9,08%
6. PAN : 7,7%
7. PKS : 6,9%
8. PPP : 6,3%
9. Nasdem : 6,6%
10. Hanura : 5,2%
11. PBB : 1,4%
12. PKPI : 1,0%

Lingkar Survei Indonesia
Total Sampel; 96,6%
1. PDIP: 19,72%
2. Golkar: 14,57%
3. Gerindra: 11,58%
4. Demokrat: 10,4%
5. PKB: 9,09%
6. PAN : 7,4%
7. PKS : 6,6%
8. PPP : 7,0%
9. Nasdem : 6,4%
10. Hanura : 5,2%
11. PBB : 1,4%
12. PKPI : 1,0%

Indikator Politik Indonesia
Total sampel: 97,4%
1. PDIP: 19,7%
2. Golkar: 14,63%
3. Gerindra: 12,27%
4. Demokrat: 10,0%
5. PKB: 9,1%
6. PAN : 7,3%
7. PKS : 6,9%
8. PPP : 6,4%
9. Nasdem : 6,9%
10. Hanura : 5,4%
11. PBB : 1,5%
12. PKPI : 0,9%

KALAU DI TINGGAL BISA BERBELOK ARAH...DAN BISA MENGGEMBOSI...DALAM DUANIA POLITIK SUDAH BIASA...ADA BAIKNYA BERKAWAN DENGAN LEBIH SANTUN

Fan Rhoma: Ada Gelagat Rhoma Akan Ditinggal  

Minggu, 13 April 2014 | 18:56 WIB
Fan Rhoma: Ada Gelagat Rhoma Akan Ditinggal   
Calon presiden dari Partai Kebangkitan Bangsa Rhoma Irama saat berkampanye di kawasan Cipedak, Jakarta, Sabtu (29/3). TEMPO/Gunawan Wicaksono
TEMPO.CO, Surabaya - Ketua Umum Fans of Rhoma and Soneta (Forsa) Surya Aka Syahnagra meminta Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskadar konsisten dengan janjinya yang akan mengusung Rhoma Irama sebagai calon presiden. Meski perolehan suara PKB dalam pemilu ini memperkecil peluang mereka untuk mencapreskan Rhoma, tetapi menurut Surya, kesempatan untuk mendorong pentolan grup musik dangdut Soneta itu sebagai cawapres masih terbuka.
"Jangan sampai Cak Imin (sapaan Muhaimin) malah menambah cawapres baru. Ini menyinggung fan Rhoma yang telah memberi kontribusi besar pada PKB di pemilu kali ini," kata Surya saat dihubungi, Ahad, 13 April 2014.

Surya kecewa karena ada gelagat Muhaimin dan PKB akan meninggalkan Rhoma dalam penentuan capres maupun cawapres. Surya juga menilai mulai ada elite PKB yang berusaha mendegradasi peran Rhoma dalam masa kampanye kemarin. Salah satunya dengan mengusung mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud Md., dan Muhaimin sendiri untuk ditawarkan sebagai pendamping capres tertentu.

"Memang semua belum pasti. Kami masih percaya Cak Imin bersama DPP PKB akan konsisten. Koalisi dengan bacapres manapun kami serahkan ke DPP, fan Rhoma yang jumlahnya tidak sedikit siap mendukung," ujar Surya yang juga orang dekat Rhoma.

Menurut Surya, pada Jumat sore, 11 April 2014, Muhaimin telah bertemu Rhoma. Muhaimin memberi tahu bahwa dirinya akan melakukan safari politik ke parpol lain untuk menjajaki koalisi. Hanya saja, kata Surya, dalam penjajakan koalisi itu memunculkan nama cawapres di luar Rhoma. "Malah ada media yang menyebut Rhoma tidak masuk yang ditawarkan," kata Surya.

Rhoma, kata Surya, sadar bahwa naiknya suara PKB hingga 100 persen dibandingkan pemilu lima tahun lalu bukan faktor dia sendirian. Semua komponen PKB dan Nahdlatul Ulama (NU) juga punya peran besar. Namun sejak awal, kata Surya, Muhaimin meminang Rhoma untuk diusung sebagai capres. "Kalau Rhoma ditinggal, ratusan ribu fan akan kecewa dan sakit hati," kata dia.

Rhoma sendiri, menurut Surya, masih menaruh kepercayaan pada Muhaimin. Rhoma juga meminta agar pendukungnya tenang serta mengikuti perkembangan politik yang terjadi. "Tapi kami sebagai fan membaca ada gelagat bahwa Bang Rhoma akan ditinggal. Boleh dibilang Bang Rhoma telah berkeringat buat PKB pada pemilu kemarin," kata Surya.

KUKUH S. WIBOWO

TAHUN SHIO KUDA ....GAK COCOK UNTUK 2014?...APAKAH ANDA PUNYA SHIO LAIN...DAN SIAP MENANG DI CAPRES 2014...TAMPAKNYA...RAMALAN KI KUSUMO AKAN MENJADI NYATA

Ki Kusumo: Peluang Jokowi Nyapres Akan Mirip Obama

Ki Kusumo: Peluang Jokowi Nyapres Akan Mirip Obama
Ki Kusumo. TEMPO/Nurdiansah
TEMPO.CO, Jakarta - Jokowi dinilai sebagai sosok pemimpin yang tekun. Peluangnya untuk menduduki jabatan sentral akan mudah. Penerimaan masyarakat pun akan sangat mendukungnya.

Produser dan penasihat spiritual, Ki Kusumo, menilai peluang Jokowi dalam pemilu mendatang cukup besar. Namun, dari prediksinya, Ki Kusumo mengatakan 2014 bukan saat yang tepat bagi Jokowi untuk jadi pemimpin.

"Belum saatnya, baiknya benahi Jakarta dulu. Dia itu pemimpin yang tekun, akan ada waktu untuk Jokowi," ujar Ki Kusumo santai saat ditemui di kediamannya di Perumahan Kemang Pratama, Bekasi, pada Kamis, 19 Desember 2013.

Ki Kusumo menilai sisi baik Jokowi terlihat dari struktur mukanya. "Jokowi itu memiliki tipe wajah tikus dengan analogi tikus itu merupakan hewan yang bisa bertahan dalam kondisi apa pun," ujarnya.

Pria bertubuh tinggi-besar ini mengatakan, Jokowi punya peluang dan bisa sukses mirip dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Apalagi, seperti yang dijelaskan Ki Kusumo, Jokowi adalah orang yang memiliki tipe muka tikus, yang berarti akan bisa bertahan dan berusaha.

"Tikus berbeda dengan binatang lainnya, hanya tikus yang mampu bertahan hidup dalam kondisi cuaca buruk sekalipun," Ki Kusumo menegaskan.

Selain Jokowi, pemimpin yang dinilai bertipe muka tikus adalah Barack Obama. Orang-orang yang memiliki muka dengan tipe tikus dinilai sebagai orang-orang yang bisa dipercaya karena kerja kerasnya dalam menyelesaikan tanggung jawab.

"Tetapi, yang perlu diingat, 2014, tahun kuda yang kurang bagus untuk shio tikus, macan, dan naga. Nah, saya kira ada pertimbangan begini juga untuk Jokowi apabila dia nyapres," ujarnya.

PUISI UNTUK SIAPA?....ZATIRE....ATAUKAN SEBUAH KENYATAAN......

Puisi Fadli Zon sindiran untuk Jokowi

Raisopopo
Aku raisopopo
seperti wayang digerakkan dalang
cerita sejuta harapan
menjual mimpi tanpa kenyataan
berselimut citra fatamorgana
dan kau terkesima


Puisi Fadli Zon sindiran untuk Jokowi
Foto Fadli Zon
Aku raisopopo
menari di gendang tuan
melenggok tanpa tujuan
berjalan dari gang hingga comberan
menabuh genderang blusukan
kadang menumpang bus karatan
diantara banjir dan kemacetan
semua jadi liputan
menyihir dunia maya
dan kau terkesima


Aku raisopopo

hanya bisa berkata rapopo

the tradition leader...saatnya Prabowo the real Presiden 2014


saatnya kita mendukung prabowo menjadi presiden 2014.

kita bukan negara boneka yang seenaknya diperlakukan negri asing....rakyat yang miskin akan semakin miskin karena pengelolaan negara yang miring ke kapitalistic.

kini saatnya sosialisme pancasila tumbuh dan berkembang di bumi INDONESIA.

PILIH PRABOWO...agar Indonesia makmur.

nelayan...petani...buruh makmur dan sejahtera 

Selasa, 15 April 2014

3. SKENARIO VERSI SYAIFUL MUJANI?....BENARKAH...ATAU ADA VERSI LAIN CAPRES 2014 YAD

Ada 3 Skenario Koalisi Partai Versi SMRC



Acara diskusi skenario koalisi partai politik (ANTARA/Widodo S Jusuf)
Jakarta, GATRAnews - Koalisi partai politik pasca pemilu legislatif 9 Juli diprediksi bakal melahirkan tiga skenario. Koalisi pertama, yang disebut Gotong Royong Perjuangan Bangsa, meliputi PDIP, PKB, dan NasDem. "Ini sudah kelihatan faktanya." Demikian prediksi Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), berdasarkan survei.

Menurut Djayadi Hanan, Direktur Eksekutif SMRC, saat merilis hasil survei bertema "Tiga Skenario Koalisi Capres Pilpres 2014", di Jakarta, Minggu (13/4), skenario kedua adalah koalisi Gerakan Amanat Indonesia, yang bakal diusung dua partai, yakni Partai Gerindra dan PAN. Dan ketiga, koalisi Karya Demokrat yang dibangun Partai Golkar dan Demokrat.

Dari tiga koalisi tersebut, kata Djayadi, SMRC juga meprediksi hanya akan memunculkan tiga pasang capres-cawapres. Capresnya adalah Joko Widodo (Jokowi) dari Gotong Royong Perjuangan Bangsa yang diusung PDI Perjuangan, PKB, dan NasDem.

Capres kedua, Prabowo Subianto dari koalisi Gerakan Amanat Indonesia yang terdiri dari Gerindra dan PAN yang juga merpresentasikan tokoh Islam. Capres ketiga, adalah Aburizal Bakrie (ARB) dari koalisi Karya Demokrat yang dibangun Golkar dan Demokrat.

"Golkar itu secara tegas sampaikan ke PDI Perjuangan, masih akan mencoba ajukan capres sendiri, walaupun akhirnya jika kalah mereka akan bergabung dengan PDI Perjuangan di pemerintahan," kata Djayadi.

Dinamika politik masih terus berkambang, tandas Djayadi, sehingga tidak menutup kemungkinan akan lahir lagi satu koalisi dan menambah satu pasangan capres-cawapres yang akan masuk ring pilpres mendatang. "Masih mungkin ada empat pasangan, karena ini masih dinamis,” tambah Djayadi. (IS)

TAMU UNTUK NAMFREL INDONESIA....EUROPE MISSION ON LINE


Eropa delegasi : INDONESIA MEMANG NEGRI DEMOKRASI TERBESAR DI ASIA...NO 2 SETELAH AMERIKA.

CAPRES ...GARUDA SAKTI...DUKUNGAN ANDA...PERJUANGAN KITA BERSAMA...UNTUK INDONESIA RAYA


JANGAN LUPA.....SUARA ANDA MENENTUKAN..PEROBAHAN INDONESIA RAYA...MOHON DUKUNG KAMI.

SAATNYA GARUDA TERBANG KE ANGKASA YANG TINGGI...ITULAH INDONESIA


KEPADA RELAWAN GARUDA SAKTI...KAMI MENYERUKAN KEPADA ANDA DIMANAPUN ANDA BERADA....PILIHLAH PRABOWO SEBAGAI CAPRES ANDA...SEMOGA TUHAN YANG MAHA ESA MERIDHOI...AMIN.3X

VISIONER DIPERLUKAN BAGI PEMIMPIN INDONESIA KEDEPAN


KOMNITAS "GARUDA SAKTI" MENDUKUNG PRABOWO SEBAGAI CAPRES YANG PATUT KITA PILIH.NEGARA KITA MEMERLUKAN PRESIDEN YANG BERANI,DEKAT DENGAN PETANI,NELAYAN DAN BURUH. ADALAH KEKUATAN BANGSA DALAM MENOPANG EKONOMI REAL.


Senin, 14 April 2014

PAN...BIMBANG MAU KEMANA? GERINDRA ATAU PDIP....APA MEREKA MAU?

PAN: Keputusan Koalisi Sudah Hampir Final

M Iqbal - detikNews
Foto: Ketua Umum PAN Hatta Rajasa (Arbi/detikcom)
Jakarta - Partai Amanat Nasional (PAN) menjajaki koalisi dengan menyodorkan Hatta Rajasa sebagai cawapres kepada PDIP dan Gerindra. Wakil Ketua Umum PAN Dradjad Wibowo, mengatakan keputusan koalisi sudah hampir final, namun belum bisa diungkap partai yang dipilih PAN.

"Keputusannya sudah hampir final. Begitu final, akan segera diumumkan," kata Wakil Ketua Umum PAN Dradjad Wibowo kepada detikcom, Selasa (15/4/2014).

Menurut Dradjad, pembicaraan koalisi sudah sangat matang. Tapi keputusan resmi tentang capres dan cawapres akan dibuat dalam Rakernas, karena ART menggariskan seperti itu. Rakernas adalah forum kedua tertinggi setelah Kongres PAN. Jadi bukan diputuskan MPP atau DPP.

"PAN sudah lama menjalin komunikasi dengan semua parpol, termasuk tentu saja PDIP, Golkar, Gerindra dan Partai Demokrat. Setelah pileg, komunikasi tersebut makin mengerucut kepada penyamaan visi, misi dan agenda, dan tentu saja siapa 'calon pengantin'nya," paparnya.

Soal pertimbangan koalisi, Dradjad mengatakan PAN untuk tahun 2014-2019 mengusung agenda Reformasi Gelombang Kedua, dengan fokus pada politik kemakmuran (kesejahteraan). Reformasi gelombang pertama sejak 1998 dianggap sudah menghasilkan stabilitas nasional dan pertumbuhan ekonomi.

Namun sisi pemerataan dan sustainabilitas masih tertinggal. Agenda PAN di bawah arahan Amien Rais dan kepemimpinan bang Hatta, ingin lebih mendorong pemerataan di segala bidang bagi rakyat Indonesia tersebut.

"Tokoh yang diberi amanat PAN dan Pak Amien mengusung agenda tersebut adalah bang Hatta. Rakernas PAN 2011 memutuskan bang Hatta maju sebagai capres, tapi suara PAN dalam Pileg belum cukup untuk menjadikan PAN sebagai lokomotif koalisi. Jadi PAN membuka peluang mengajukan bang Hatta sebagai cawapres untuk mengusung agenda Reformasi Gelombang Kedua tersebut," paparnya.

"Partai apa dan siapa? Tunggu sampai nanti diumumkan Pak Amien dan Bang Hatta bersama-sama pasangan capres dan mitra koalisi," imbuh Dradjad.
Ikuti berbagai berita menarik yang terjadi hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.15 WIB

WADUH...MAS JOKO SUDAH PRAGMATIS...WIS ORA KOYO NDISIK YO?..JANGAN LUPA AKAR?

Nyapres tapi Ogah Lepas Kursi Gubernur, Jokowi Pragmatis

Senin, 14 April 2014 - 11:48 wib | ant -

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Foto: Dede/Okezone)Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Foto: Dede/Okezone)JAKARTA - Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Herdi Sahrasad, menyebut Joko Widodo menganut pragmatisme politik. Pasalnya, dia menolak mundur dari jabatan Gubernur DKI Jakarta meski sudah maju sebagai calon presiden (capres).
 
"Agar dia konsen penuh di pilpres. Kalau tidak mundur, enak di dia (Jokowi) dong. Kalau menang syukur, enggak menang ya balik lagi (jadi Gubernur DKI). Ada aspek pragmatis politik. Menjabat tapi tetap ikut pilpres," ujar Herdi Sahrasad di Jakarta, Senin (14/4/2014).
 
Menurut dia, secara etis Jokowi sebaiknya mundur untuk menunjukkan keseriusannya maju dalam Pemilihan Presiden 2014, kendati dalam undang-undang tidak mengatur kepala daerah yang hendak maju capres harus mundur dari jabatannya.
 
"Memang tak ada keharusan. Tapi secara etis, jika Jokowi mundur maka itu menunjukkan kesungguhan dia," katanya.
 
Beberapa waktu lalu Jokowi mengatakan tidak tidak ingin pihak lain mencampuri masalah pengunduran dirinya setelah diberikan mandat sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). "Itu urusan gue. Enggak usah ikut-ikutanlah," ujar dia.
 
Jokowi mengatakan, keputusan untuk mundur sebagai Gubernur DKI Jakarta maupun pengambilan cuti panjang masih dikaji partainya dalam segi hukum dan ketatanegaraan.
 
"Saya mau mundur, mau berhenti nantilah. Enggak usah ikut-ikutan," kata dia.
(ant//ded
)

Sabtu, 12 April 2014

LAMBAN TAPI PASTI....BUKAN CEPAT DAN TERBURU BURU....STRATEGI BURUNG GARUDA SAKTI

PDIP-NasDem Sepakat Koalisi, Ini Reaksi Gerindra

Septiana Ledysia - detikNews
Jakarta - PDIP dan NasDem telah sepakat menjalin koalisi untuk Pilpres 2014. Gerindra, sebagai salah satu parpol tiga besar versi quick count, menanggapi santai manuver PDIP.

"Kita tidak mau tergesa-gesa dan terburu-buru dalam menata koalisi sebagai rencana mematangkan koalisi pemerintahan," kata Waketum Gerindra Fadli Zon di Kantor DPP Partai Gerindra, Jl Harsono RM, Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (12/4/2014).

Fadli mengatakan Gerindra memiliki strategi yang berbeda dengan PDIP. Jika PDIP memilih bergerak cepat, Gerindra memilih pelan tapi pasti dengan memastikan kesamaan visi misi dan platform membangun bangsa.

"Kita akan mengatakan pahitnya dari sekarang daripada belakangannya baru tahu. Yang terpenting semua sesuai dengan platform leadership sejak awal," ujarnya.

Gerindra sudah membuat sejumlah pergerakan menggalang koalisi. Di antara partai yang sudah ditemui adalah PKB, PAN, PKS, dan PPP. Saat ini Gerindra sedang mengatur pertemuan dengan Partai Demokrat.

KADER DADAKAN ....RASANYA KURANG AFDOL...BANGSA KITA SANGAT LELAH AKAN HAL ITU...KITA TIDAK BOLEH FRAGMATISME..DALAM SOAL LEADERSHIP

Liputan6.com, Jakarta - Oleh: Oscar Ferri, Luqman Rimadi, Taufiqurrahman, Muhammad Ali
Tak henti-hentinya ucapan syukur terlontar dari mulut Jokowi. Gubernur DKI Jakarta itu tersenyum sumringah. Senang. Saat mengetahui PDIP telah merajai hasil sementara hitung cepat (quick count ) Pemilu 2014.  

"Pertama, kita ingin ucapkan syukur, syukur, syukur terlebih dahulu. Alhamdulillah," kata Jokowi di Posko Pemenangan JKW4P, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 9 April 2014. 

Rabu 9 April 2014, usai pesta demokrasi digelar, sejumlah hasil survei nasional melansir hasil hitung cepat (quick count). Hasilnya, hampir seluruh lembaga survei nasional menyebut partai yang menjagokan Jokowi sebagai capres itu mendulang suara di atas 18 persen. Disusul partai Golkar dan Gerindra dengan masing-masing suara di atas 14% dan 11%.

Lembaga survei CSIS dan Cyrus Network, hingga Jumat (11/4/2014) pukul 22.30 WIB mencatat suara PDIP 18.94%. Disusul Golkar mengantongi suara sebesar 14,32% serta Gerindra 11,82%. Suara PDIP itu meningkat sekitar 5% ketimbang Pemilu 2009 yang mendapat suara 14,03%. Meski begitu, Jokowi mengakui jumlah itu masih jauh dari harapan.

"Kalau orang tanya puas tidak, ya nggak puas," ungkap Jokowi di depan kediaman Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta, Rabu 9 April 2014. 

Memang, partai berlambang banteng moncong putih itu menargetkan suara pada Pemilu 2014 ini mencapai 27 persen. Untuk menggapai nilai tersebut, sang pemimpin partai Megawati Soekarnoputri pun mendapuk pria bernama lengkap Joko Widodo maju sebagai capres dari PDIP. Hal ini lantaran mantan Walikota Solo itu dianggap memiliki magnet tersendiri dalam mendulang suara PDIP. 
Namun nyatanya, Jokowi effect tak berbinar seperti hasil survei yang digelar sebelum isu pencapresan dirinya.
Lantas apa sebab? Menurut Jokowi, suara PDIP jauh dari target bukan karena Jokowi Effect yang meredup akibat serangan dari lawan politiknya. Tapi itu merupakan tanggung jawab dari para caleg di lapangan. Pasalnya, kata dia, dalam pileg ini, pertarungan sesungguhnya adalah antarcaleg dan bukan berada pada tataran capres. 

"Ini realitas di lapangan, dalam pileg yang bertarung sebenarnya adalah caleg-caleg yang jumlah 6.600 itu bertarung di bawah. Mereka punya ruang-ruang kecil yang sudah dikuasai. Nah ruang-ruang itu mungkin TPS, RT, RW. Jadi itu sebenarnya pertarungan antarmereka," jelas Jokowi.

Kendati demikian, suami Iriana ini pun tidak menampik jika serangan terhadapnya juga turut mempengaruhi perolehan suara PDIP dalam Pileg. Untuk itu, Jokowi menyanyangkan mengapa itu terjadi.
"Waktu tarung pileg kemarin, yang diserang saya, capresnya. Padahal seharusnya tidak (diserang) seperti itu. Masalahnya yang terjadi di lapangan justru seperti itu. Nyerangnya saya. Padahal Pilpresnya masih 9 Juli‎," keluh Jokowi.

Keluhan Jokowi diamini pengamat politik Universitas Indonesia Agung Suprio. Dia menilai, PDIP terlihat jelas terlalu menjadikan Jokowi sebagai bantalan untuk menangguk suara dengan mendeklarasikannya sebagai calon presiden menjelang Pileg 2014. Padahal, sosok Jokowi yang dianggap 'suci' itu juga sudah mulai diserang sehingga sandarannya mulai rapuh. 

Agung menjelaskan, hasil Pileg 2014 merupakan gambaran dari slogan 'PDIP No, Jokowi Yes'. Karena itu menurutnya, tim sukses Jokowi harus dievaluasi lantaran tak mampu menciptakan Jokowi effect dalam Pileg. 
Tak begitu signifikannya perolehan suara PDIP juga menunjukkan sosok Jokowi sebagai bakal calon presiden sudah jadi kartu mati. Dia kini dinilainya sudah tak lagi menjadi kartu AS bagi PDIP.
"Di sini Jokowi telah menjadi kartu mati dan bukan lagi kartu AS buat PDIP," tandas Agung. 

Sejumlah 'serangan' terhadap Jokowi gencar dilakukan oleh lawan politiknya. Sejumlah isu dilontarkan. Di antaranya tentang capres 'boneka' dan sikap Jokowi yang dianggap terlalu manut kepada Megawati. 
Tak hanya itu, menurut Direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, elektabilitas Jokowi melempem dimulai Maret 2014, saat Gubernur DKI Jakarta itu mendeklarasikan diri siap menjadi capres PDIP. Sejak itu, opini publik terhadap Jokowi berubah.

"Ada 2 penyebabnya, Jokowi dinilai mengingkari janji dan ada videonya. Kedua kasus pengadaan busway. Apalagi kalau kejagung mengeksplor kasus ini terus sampai akhirnya memanggil Jokowi," lanjut Denny.

Sejak itu pula, lanjut Denny, kampanye negatif terhadap Jokowi terus gencar terdengar. Hal itu yang membuat elektabilitas Jokowi mengalami penurunan. Sayangnya, tak ada kampanye hitam terhadap dirinya yang secara teknis bisa meningkatkan simpati.

Hal berbeda disampaikan politisi senior PDIP Ganjar Pranowo. Dia menilai sulitnya PDIP menggapai target suara 27% lantaran minimnya akses ke media televisi untuk memberitakan Jokowi. "Yang tidak luar biasa itu karena tidak bisa masuk ke banyak media. Kita sulit masuk televisi, kan?" kata Gubernur Jawa Tengah itu di Gedung Gradhika Bakti Praja, Semarang, Kamis 10 April 2014.

Termasuk saat akan memasang iklan di website sebuah media, lanjut Ganjar, pemilik media tersebut menolak. Hal itulah yang menurut Ganjar cukup mempengaruhi efek Jokowi hingga tidak bisa maksimal. "Kita kalah di media, Jokowi effect tidak terlihat dan tidak nampak. Kalau kita punya porsi yang sama di sana. Luar biasa," tegas Ganjar. 

Prabowo Effect

Pemilu 2014 memberikan sejarah tersendiri bagi Partai Gerindra. Partai besutan Prabowo Subianto itu masuk dalam 3 besar dengan perolehan suara di atas 11 persen atau naik berkisar 7% dari Pemilu 2009 yang mendapat suara 4,46 persen. Angka itu berbeda dengan PDIP yang hanya meningkat menjadi 5 persen.

Direktur Riset Indikator Hendro Prasetyo menyatakan, Partai Gerindra yang masuk partai besar karena ada pengaruh Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. Saat ini, masyarakat mendambakan pemimpin tegas

"Saya kira ketokohan Prabowo tak bisa dilepaskan. Ada pengaruh Prabowo karena selain ia dinilai bersih, masyarakat mendambakan pemimpin tegas yang siap menegakkan hukum. Itu dilekatkan sekali dengan Prabowo," ujar Hendro, di Kembangan, Jakarta, Rabu (9/4/2014).

Selain itu, ketokohan Prabowo menjadi magnet suara karena masyarakat juga merasa tak puas dengan Pemerintahan SBY yang kurang tegas. Hendro menilai, mesin Gerindra politik juga berjalan baik. Misalnya saja, sering muncul di iklan seperti parpol lainnya. "Hal itu membuat distribusi pendukung Gerindra merata, ada di mana-mana."

Dosen psikologi Universitas Indonesia (UI) Dewi Haroen menyatakan kunci keberhasilan Gerindra masuk 3 besar lantaran secara kasat mata, Prabowo effect lebih terlihat ketimbang Jokowi effect. Mengapa demikian? Pakarpersonal branding ini memaparkan, ada kenyataan yang luput dari mata pengamat dan lembaga survei. Yaitu tentang kejelian Ketua Dewan Pembina yang juga capres Partai Gerindra Prabowo Subianto mengajak orang-orang komunikasi di barisannya.

Pemilihan orang-orang tepat untuk memudahkan komunikasi dengan media, dinilai dia menjadi kunci penting bagi Prabowo dalam mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya.

"Tim media dan komunikasi Prabowo terlihat bekerja maksimal melalui berbagai media, termasuk media sosial yang dulu dikuasai Jokowi," jelas dia.

Sehingga, imbuhnya, personal branding Prabowo sebagai pribadi yang bersikap tegas terhadap apapun, antikorupsi, jiwa sosialnya sangat tinggi, serta konsep ekonominya yang sangat jelas untuk memakmurkan rakyat yang kuat secara terus-menerus dikomunikasikan dengan baik dan konsisten kepada swing voters hingga hari pencoblosan.

"Ini yang tidak disadari Jokowi dan tim pendukungnya dari PDIP. Bisa jadi mereka sama sekali tidak mempelajari bagaimana Jokowi berhasil dalam Pilkada DKI. Mereka merasa di atas angin karena menganggap Jokowi 'media darling' serta terbuai dengan hasil survei," sebutnya. 

Hal berbeda disampaikan Direktur Riset Indikator Hendro Prasetyo. Dia menjelaskan, perbandingan kenaikan perolehan suara 2 partai itu membuktikan Jokowi Effect tak sebanding dengan Prabowo effect. Faktor pembedanya adalah Prabowo merupakan pendiri partai, sedangkan Jokowi hanya kader dadakan.

"Itu 2 konteks berbeda (antara Jokowi effect dan Prabowo effect). Prabowo yang sejak awal dirikan Gerindra. Sama seperti pendiri Demokrat yaitu SBY sehingga intensifnya Prabowo lebih lama dan kuat ke masyarakat," jelas Hendro kepada Liputan6.com, di Jakarta, Jumat (11/4/2014).

Atas perbedaan tersebut, Hendro menilai kurang adil bila membandingkan seorang Ketua Dewan Pembina sekaligus pendiri partai dengan seorang yang hanya kader.
"Kalau Jokowi disandingkan kurang fair, konteks berbeda. Dia bukan pendiri PDIP dan dia bukan pengurus inti PDIP. Jokowi jadi perbincangan ketika jadi Gubernur di Jakarta. Untuk itu kita nggak bisa bandingkan Prabowo dan Jokowi terhadap efek ke partai," papar Hendro.

Terkait perbedaan suara di mana kenaikan Gerindra cukup signifikan, Hendro melihat hal itu disebabkan karena mesin partai pimpinan Prabowo itu bekerja dengan baik. Buktinya, hampir di seluruh daerah Gerindra mendapat suara meski tak jadi pemenang. Hal itu mengesankan Gerindra sebagai partai nasionalis.
(Muhammad Ali)

IDEOLOGIS PARTAI...PRABOWO LEBIH KUAT DARI JOKOWI....MENJADIKAN GERINDRA BESAR

Pengamat: Ketokohan Prabowo Lebih Kuat dari Jokowi


Liputan6.com, Jakarta - 'Jokowi effect' dinilai tak sesuai dengan harapan PDIP. Suara partai moncong putih itu tak tembus 20% suara di berbagai perhitungan cepat (quick count) perolehan Pileg 2014. Padahal, berbagai lembaga survei memprediksi PDIP setidaknya dapat meraih 30%.

Hal ini berbeda jauh dengan Partai Gerindra. Suara partai besutan Prabowo Subianto itu melonjak 200% dibanding 2009. Apa yang menyebabkan hal itu? Padahal, Jokowi begitu dielu-elukan warga.

"Faktornya, asosiasi Prabowo lebih kuat. Faktor tokoh lebih kuat Prabowo ke Gerindra dibanding Jokowi ke PDIP," kata peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Adjie Alfaraby di Jakarta, Jumat (11/4/2014).

Adjie menilai, nama Prabowo sangat melekat dengan Partai Gerindra. Karena itu, begitu warga suka dengan Prabowo, sudah pasti akan memilih Gerindra. Hal ini berbeda dengan Jokowi dan PDIP.

"PDIP bukan hanya Jokowi, tapi masih ada Megawati sebagai pimpinan partai. Jadi belum tentu orang yang suka dengan Jokowi akan memilih PDIP. Jokowi dan PDIP tidak melekat seperti Prabowo dan Gerindra," lanjutnya.

Selain faktor ketokohan yang melekat dengan partai, lanjut dia, tak bisa dipungkiri pendanaan Gerindra juga tak kalah kuat. Terlebih ekspose di hampir seluruh media membuat nama Prabowo semakin melekat di benak masyarakat.

"Gerindra pendanaannya kuat, ekspose media juga kuat. Jadi semakin menguatkan asosiasi Prabowo dan Gerindra, seperti SBY dan Demokrat," pungkas Adjie.
(Nadya Isnaeni Panggabean) - See more at: http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2035978/pengamat-ketokohan-prabowo-lebih-kuat-dari-jokowi#sthash.Pro9XBxx.dpuf

MATAHARI KEMBAR AKAN LAHIR....MESTI HATI2...2 NAHKODA...SATU HALUAN...APA BISA?

Duet Jokowi-JK Rentan Dualisme Kekuasaan



+ - Calon presiden (capres) PDI Perjuangan, Joko Widodo harus benar-benar matang memilih calon wakil presiden (cawapres). Jika salah pilih, sosok cawapres justru akan menjadi bumerang dalam pemenangan Jokowi pada pemilu presiden (pilpres) mendatang. Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Arbi Sanit berpendapat, cawapres Jokowi jangan hanya populer saja. "Popularitas tak cukup untuk negara ini, untuk itu harus cari cawapres yang tepat," ujar Arbi saat dihubungi wartawan di Jakarta, Sabtu (12/4). Belakangan sejumlah nama tokoh mencuat sebagai kandidat potensial menjadi cawapres Jokowi. Mulai dari Jusuf Kalla, Hatta Rajasa, Mahfud MD, hingga Basuki T Purnama (Ahok). Dari nama-nama tersebut, JK yang pernah menjadi Wakil Presiden RI pada pemerintahan Presiden SBY jilid I dinilai paling mumpuni. Namun, duet Jokowi-JK dikhawatirkan memunculkan fenomena matahari kembar. "Kalau JK kelemahannya akan muncul matahari kembar. Oleh karena itu bisa jadi ditekankan benar oleh PDIP dan Jokowi, bahwa JK tak boleh membuat keputusan. Itu caranya bila JK jadi cawapres Jokowi," ujar Arbi menyampaikan analisisnya. Arbi menyarankan agar cawapres yang dipilih adalah sosok yang bisa melengkapi kekurangan Jokowi. Tetapi juga tidak memicu peluang terjadinya dua pengaruh kekuasaan antara presiden dan wakil presiden. "JK memang memenuhi syarat, tapi kerawanannya ya itu muncul dualisme kepemimpinan, biar aman JK enggak boleh buat keputusan," tandasnya. (dil/jpnn)

WAH KARENA KAGAK ADA SUARA MAYORITAS...MAKA PARLEMEN KITA SEMAKIN GADUH?...BANYAK INSTRUPTION

Politik Dagang Sapi Makin Subur di Pilpres 2014




JPNN

JAKARTA - Ketua DPR Marzuki Alie mengatakan, karena tidak partai politik memperoleh suara yang signifikan, untuk membentuk pemerintahan tetap akan menempuh jalur kompromi alias koalisi. Keadaan ini dinilai tetap mendorong adanya politik "dagang sapi". "Pemenang pemilu legislatif memang ada. Tapi perolehan suaranya tidak signifikan. Fakta ini mendorong partai politik peserta Pemilu untuk kompromi yang biasanya mengarah ke praktik dagang sapi," kata Marzuki Alie, di Jakarta, Sabtu (12/4). Kalau syahwat berkuasa elit politik tidak terkontrol, mantan Sekjen Partai Demokrat itu memperkirakan kondisi politik menjelang Pilpres akan semakin parah dibanding pilpres sebelumnya. "Muara dari seluruh persoalan tersebut akan melahirkan kekuatan pemerintahan yang tidak stabil karena bertambahnya jumlah partai yang lolos ke DPR dan kekuataannya relatif merata," ujar Marzuki. Seharusnya menurut Wakil Ketua Wanbin Demokrat itu, sejak awal parliamentary threshold digandakan dari 2,5 persen pada pemilu 2009 menjadi 5 persen pada Pemilu 2014. "Hanya dengan cara menaikkan parliamentary threshold itu proses penyederhanaan partai politik bisa dilakukan secara elegan. Apalagi pembentukan fraksi tidak ditentukan jumlah kursi sehingga setiap partai bisa membentuk fraksi, maka akan membuat peta kekuatan di DPR semakin ramai dan kacau," pungkasnya.(fas/jpnn)

Kamis, 10 April 2014

ANALIS JURNALIS...TENTANG TEKA TEKI SIAPA WACAPRES....MASIH PERLU WAKTU UNTUK UJI

Menunggu Prabowo Subianto Meminang Hary Tanoe

Prabowo Subianto
Prabowo Subianto


Jakarta, 10 April 2014 (KATAKAMI.COM)  — Sekarang, setelah hasil hitungan cepat atau quick count dari Pemilu Legislatif keluar, siapa yang bisa menyangkal fenomena Prabowo Subianto yang tak luntur sejak Pemilu 2009?
Digoyang dan dihancurkan sekejam atau sesadis apapun lewat isu-isu hitam atau kampanye-kampanye gosong (bukan cuma kampanye hitam, tapi sudah sampai ke tingkat gosong), Prabowo tak bisa dilepas atau dihilangkan dari hati mayoritas rakyat Indonesia.
Mau direkayasa tentang adanya sosok pemimpin baru yang lugu tapi memuakkan (sebab tak punya kemampuan apapun dalam memimpin dan mengelola pemerintahan), sekali lagi, Prabowo tak bisa dilepas atau dihilangkan dari hati mayoritas rakyat indonesia.
Perolehan suara untuk Partai Gerindra (berdasarkan hitungan cepat) hampir mencapai 12 persen.
Padahal kalau mau jujur, jika Pemilu Legislatif kemarin tidak dicurangi oleh operasi intelijen dari pihak manapun dan untuk kepentingan politik apapun, Gerindra diprediksi bisa mencapai suara diatas 16 sampai 19 persen.
Sehingga, yang akan keluar sebagai pemenang Pemilu adalah Gerindra, bukan partai lain yang sebenarnya tak punya keunggulan dan tak punya apapun untuk ditawarkan kepada rakyat Indonesia,

Prabowo Subianto
Prabowo Subianto

Fenomena Prabowo ini mengingatkan pada sebuah informasi rahasia yang dibocorkan oleh seorang perwira tinggi TNI yang masih aktif pada bulan Oktober 2013 lalu kepada seorang wartawati senior saat mereka berbincang di Gedung DPR-RI.
“Berdasarkan pantauan dan data di lapangan, Prabowo tetap paling tinggi secara merata di semua daerah. Sulit ditandingi” kata perwira tinggi itu.
Lalu, apa yang istimewa dari seorang Prabowo ?
Penasaran tentang apa sesungguhnya keungggulan dari sosok Prabowo Subianto, mantan KSAD Jenderal TNI Subagyo HS bertanya kepada seorang wartawati senior tentang pandangan sang wartawati tentang sosok Prabowo ?
Wartawati itu berkata, “Orang mau berkata seburuk apapun tentang Mas Bowo, kita harus ingat satu hal kalau berbicara tentang Prabowo Subianto bahwa di dadanya adanya merah putih. Itu yang harus jadi pegangan kita bersama. Di dadanya ada Indonesia. Ada nasionalisme yang tak bisa diragukan. Rasa kebangsaan dan nasionalisme yang begitu kuat pada diri Mas Bowo, akan membuat kita aman, nyaman dan percaya”  jawab wartawati itu.
Dan lihatlah di Papua, baik Papua ataupun Papua Barat, suara untuk Gerindra sungguh luar biasa dan sangat signifikan.
Ini menandakan apa?
Ini menandakan bahwa rakyat Indonesia, sampai ke ujung Indonesia sekalipun, tetap merasakan hal yang sama bahwa Prabowo memang dapat dipercaya.

Hary Tanoesoedibjo
Hary Tanoesoedibjo

Lalu, kalau melihat prosentase perolehan suara berdasarkan hasil hitung cepat atau quick count Pemilu Legislatif, maka akan 4 pasang calon presiden yang bisa berlaga dalam Pemilu Pilpres  bulan Juli mendatang yaitu :
-Prabowo Subianto
- Aburizal Bakrie
- Pramono Edhie Wibowo (figur inilah yang terindikasi kuat sedang diperjuangkan Sby lewat konvensi Partai Demokrat untuk dimenangkan)
- Joko Widodo
Dengan melihat dari daftar perolehan suara yang sifatnya sementara, partai-partai pendukung pemerintahan Sby saat ini atau yang tergabung dalam kabinet Indonesia Bersatu jilid 2, semuanya mendapat perolehan suara yang tidak sedikit dan sangat menakjubkan.
Tak perlu dikomentari bagaimana menakjubkannya angka-angka dari semua partai pendukung koalisi Sby saat ini.
Yang harus diingat adalah apa dan bagaimana persyaratan untuk bisa mengajukan pasangan capres dan cawapres.
Sebagaimana diketahui, persyaratan parpol atau gabungan parpol mengajukan pasangan capres dan cawapres pada pemilu presiden 9 Juli 2014 tetap harus memperoleh minimal 20 persen kursi DPR atau mendapat suara sah secara nasional 25 persen dalam pemilu legislatif.
Salah satu alternatif yang bisa dipertimbangkan Prabowo Subianto untuk maju dalam Pilpres adalah meminang Hary Tanoesoedibyo untuk menjadi pasangan cawapresnya.
Saat ini, Hary Tanoe adalah cawapres untuk Wiranto dari Partai Hanura.
Mengapa harus Hari Tanoe ?
Pertama, perolehan suara Hanura bisa mencapai 6 persen (walaupun sebenarnya kalau mau jujur, terindikasi kuat bahwa Hanura dicurangi dan dicuri suaranya dalam Pemilu ini agar pasangan Wiranto dan Hary Tanoe tidak bisa melaju dalam Pemilu Pilpres).
Kedua, Hary Tanoe punya modal finansial yang sangat kuat untuk melengkapi misi Prabowo maju dalam Pilpres.
Ketiga, Hary Tanoe bisa meringankan beban Prabowo dalam menayangkan iklan-iklan politiknya di stasiun-stasiun televisi. Sekaligus, faktor media yang di miliki Hary Tanoe, bisa melengkapi dan membuat perjuangan Prabowo lebih sempurna.
Ke-empat, Hary Tanoe menguasai masalah perekonomian dan ia punya visi serta misi yang sangat bagus untuk masyarakat luas di Indonesia.
Kelima, Hary Tanoe adalah sosok rendah hati, dimana ia telah membuktikan bahwa sebagai seorang pengusaha sekalipun, ia bisa berbaur dan mampu bekerjasama dengan sosok militer. Terbukti bahwa sosok Wiranto yang adalah mantan Menhankam / Panglima TNI sungguh terbantukan dan sangat diuntungkan dalam seluruh rangkaian persiapan Hanura menghadapi Pemilu Legislatif.

Hary Tanoe
Hary Tanoe

Jadi, sederhana saja, untuk menghadapi Pemilu Pilpres pada bulan Juli mendatang, sosok Prabowo Subianto tetap akan sangat fenomenal.
Mau siapapun yang direkayasa untuk seolah-olah harus jadi figur baru yang dikondisikan menjadi pemimpin baru di Indonesia, rakyat tidak bisa dibohongi.
Apalagi kalau figur baru yang mau dipaksakan jadi pemimpin itu adalah tukang bohong.
Apalagi kalau sampai yang mau dipaksakan memimpin Indonesia itu samasekali tidak punya jiwa kebangsaan, rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.
Ada waktu untuk Prabowo Subianto berpikir, apa yang harus ia lakukan ?
Bersediakah ia menjadi cawapres untuk Jokowi, jika ia mau berkoalisi dengan PDIP ? Sementara dalam Perjanjian Batu Tulis yang ia sepakati bersama Megawati Soekarnoputri di tahun 2009, Megawati sudah meneken kesediaan mendukung Prabowo sebagai capres di  tahun 2014 ini.
Atau, dengan siapakah Prabowo akan berpasangan, jika Prabowo memutuskan untuk maju sebagai capres ?
Ada beberapa partai yang perolehan suaranya cukup signifikan dipertimbangkan dan dipinang Gerindra, tapi yang platform partainya adalah nasionalis, tampaknya hanya Hanura.
Selamat untuk Gerindra.
Selamat juga untuk Hanura.
Dua partai politik yang dalam dua pelaksanaan Pemilu secara berturut-turut yaitu Pemilu 2009 dan 2014, tampaknya memang menjadi partai yang ditakuti bisa menang atau memperoleh suara yang sangat tinggi.
Agar kedua partai ini tidak merajalela merebut hati dan suara rakyat, tampaknya semua cara dilakukan.
Simsalabim  Abrakadabra !